Lompat ke konten utama

Kata Papua

Hindari Politik SARA dan Jaga Demokrasi, Pemilu Jangan Picu Perpecahan - Kata Papua

Hindari Politik SARA dan Jaga Demokrasi, Pemilu Jangan Picu Perpecahan

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Oleh : Ahmad Dzul Ilmi Muis

Hindari adanya politik dengan menggunakan isu SARA dan masyarakat diharapkan berperan aktif dalam menjaga iklim demokrasi di Indonesia, penyelenggaraan pesta demokrasi Pemilu 2024 jangan sampai justru memicu adanya perpecahan yang merusak tatanan dan persatuan yang selama ini sudah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa untuk keutuhan NKRI.

Indonesia merupakan negara yang menganut sistem pemerintahan demokrasi, maka dari itu, menjadi sangat penting adanya pelibatan masyarakat dalam seluruh proses politik, yang mana bentuk pelibatan masyarakat tersebut adalah dengan penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu).
Pemilu merupakan sarana bagi masyarakat untuk ikut menentukan figur dan arah kepemimpinan negara atau daerah dalam periode tertentu. Ketika demokrasi mendapat perhatian yang luas dari masyarakat dunia, penyelenggaraan pemilu yang demokratis menjadi syarat penting dalam pembentukan kepemimpinan sebuah negara. Pemilu memiliki fungsi utama untuk menghasilkan kepemimpinan yang benar-benar mendekati kehendak rakyat. Oleh karena itu, pemilu merupakan salah satu sarana legitimasi kekuasaan.
Pemilu dapat dikatakan aspiratif dan demokratis apabila memenuhi beberapa persyaratan. Pertama, pemilu harus bersifat kompetitif, dalam artian peserta pemilu harus bebas dan otonom. Kedua, pemilu yang diselenggarakan secara berkala, dalam artian pemilu harus diselenggarakan secara teratur dengan jarak waktu yang jelas. Ketiga, pemilu harus inklusif, artinya semua kelompok masyarakat harus memiliki peluang yang sama untuk berpartisipasi dalam pemilu. Tidak ada satu pun kelompok yang diperlakukan secara diskriminatif dalam proses pemilu. Keempat, pemilih harus diberi keleluasaan untuk mempertimbangkan dan mendiskusikan alternatif pilihannya dalam suasana bebas, tidak di bawah tekanan, dan akses memperoleh informasi yang luas. Kelima, penyelenggara pemilu yang tidak memihak dan independen.
Termasuk yang menjadi salah satu hal penting agar bisa terus diupayakan mengenai penyelenggaraan pemilu adalah dengan terus menjaga perdamaian dan mengupayakan supaya tidak terjadi perpecahan. Mengenai hal tersebut, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla mengimbau kepada semua masyarakat Tanah Air agar tidak menjadikan masjid sebagai mimbar kampanye politik, utamanya adalah pada bulan suci ramadhan seperti sekarang ini.
Justru menurutnya, masjid sendiri seharusnya dijadikan sebagai sebuah tempat peribadatan, kegiatan dzikir dan doa bersama. Selain itu, masjid juga mampu difungsikan sebagai sarana untuk menyebarkan syiar agama Islam dan mempersatukan umat. Maka dengan tegas, menurut mantan Wakil Presiden RI tersebut, apabila ada politisi yang ingin mengajak untuk berpolitik di masjid, maka jelas saja bahwa masjid bukanlah tempatnya.
Bagaimana tidak, pasalnya bagi beliau, apabila ada politisi yang justru mengajak untuk kegiatan politik namun di masjid, dirinya khawatir bahwa hal tersebut bisa saja menyebabkan perpecahan umat antar satu dengan yang lain. Beberapa hal seperti diantaranya adalah adanya upaya saling sindir atau menjelekkan baik antar individu atau kelompok lain dalam konteks perpolitikan.
Jangan sampai masjid justru dibuat sebagai tempat untuk saling memecah belah umat, namun seharusnya masjid sangat bisa digunakan untuk terus menyerukan ajakan ikut pemilu atau sosialisasi mendukung demokrasi yang damai.
Sementara itu, Ketua Yayasan Masjid Agung Palembang, H Abdul Rozak mengungkakan bahwa secara umum sama sekali tidak ada pelarangan jika seorang politisi kebetulan memiliki kemampuan untuk melakukan ceramah atau menjadi imam di masjid. Akan tetapi, dengan tegas diungkapkan bahwa setiap politisi tersebut tidak diperkenankan untuk menggunakan mimbar mengajak orang berpolitik.
Dirinya mengaku kalau pihaknya sangat ketat untuk terus mengawasi terkait urusan mimbar atau kampanye politik yang rentan memicu perpecahan atas kerukunan yang sudah dibina oleh para pendiri bangsa sejak lama.
Pada kesempatan lain, Ketua Relawan Sedulur Saklawase, Sayoga menyebutkan bahwa berjalannya Pemilu 2024 yang damai memang sangat diperlukan untuk bisa menghasilkan para pemimpin yang benar-benar berpihak untuk rakyat. Bukan para pemimpin atau elit politik yang mencari kegaduhan saja.
Pihaknya kemudian terus melakukan konsolidasi dan sosialisasi kepada masyatakat dan mengajak elemen masyarakat agar bisa menggelorakan semangat untuk menjaga gelaran pesta demokrasi Pemilu 2024 terus damai. Meski misalnya terdapat masyarakat yang berbeda pilihan politik, namun jangan sampai hal itu menyebabkan terjadinya perpecahan persatuan di Tanah Air.
Senada, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menginstruksikan jajaran Forum Komunikasi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) setempat agar menjaga keamanan dan menetralkan munculnya potensi kegaduhan di tengah tahun politik. Dirinya mengaku sama sekali tidak ingin adanya perpecahan antar warga hanya dikarenakan persoalan politik.
Perpecahan merupakan hal yang memang sangat merugikan banyak sekali pihak, lantaran adanya kesatuan dan persatuan di NKRI sudah sangat diperjuangkan oleh para pendiri bangsa sejak jauh hari. Maka dari itu, adanya momentum Pemilu jangan sampai merusak seluruh tatanan dan stabilitas tersebut. Hindari adanya politik yang menggunakan isu SARA dan juga masyarakat harus terus berperan aktif mengawasi berjalannya demokratisasi di Indonesia dengan baik.

)* Penulis adalah alumni Fisip Unair

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tolak Kekerasan Bersenjata, Tokoh Adat Serukan Papua yang Aman dan Damai

Oleh : Yohanes Wandikbo Penembakan terhadap tiga warga sipil yang diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali menegaskan pentingnya perlindungan masyarakat dan penguatan komitmen bersama untuk menjaga kedamaian di Tanah Papua. Kekerasan terhadap warga sipil tidak hanya mengancam keselamatan jiwa, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan sosial, aktivitas ekonomi, serta keberlanjutan pembangunan. Karena itu, penolakan terhadap kekerasan perlu menjadi sikap bersama demi mewujudkan Papua yang aman, damai, dan sejahtera. Ondoafi Kampung Sabron Yaru, Nikodemus Yaboisembut, mengecam tindakan kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat. Menurutnya, penembakan terhadap warga sipil bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan adat Papua yang menjunjung tinggi kehidupan, persaudaraan, serta keharmonisan. Masyarakat seharusnya dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa dihantui ancaman kekerasan. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap warga sipil harus menjadi perhatian bersama, sementara setiap persoalan perlu diselesaikan melalui cara-cara yang damai dan sesuai dengan hukum. Nikodemus Yaboisembut juga menilai bahwa tokoh adat mempunyai peran strategis dalam menjaga hubungan harmonis antara masyarakat dan pemerintah. Kedudukan tokoh adat yang dekat dengan kehidupan warga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunikasi, mencegah kesalahpahaman, serta menumbuhkan kepercayaan terhadap upaya menjaga keamanan. Melalui pendekatan persuasif dan penguatan nilai-nilai adat, para pemimpin masyarakat dapat mendorong warga untuk menolak kekerasan serta mengutamakan kepentingan bersama di atas perbedaan. Dalam konteks tersebut, kehadiran pemerintah melalui pelayanan publik dan berbagai program pembangunan perlu didukung dengan partisipasi masyarakat. Pembangunan tidak hanya membutuhkan kebijakan dan anggaran, tetapi juga lingkungan yang aman agar pelaksanaannya berjalan efektif. Ketika masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang, akses terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kesempatan ekonomi akan lebih terbuka. Karena itu, menjaga keamanan merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Seruan serupa disampaikan Ondoafi Kampung Kwadeware, Nikson Marweri, yang menyayangkan penembakan terhadap tiga warga sipil. Ia menekankan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan. Menurutnya, koordinasi antara warga, tokoh adat, dan aparat keamanan perlu diperkuat agar potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini. Ia juga mendorong peningkatan patroli kepolisian di wilayah yang membutuhkan penguatan pengamanan sehingga masyarakat memperoleh perlindungan yang memadai. Nikson Marweri berpandangan bahwa upaya menjaga keamanan harus dilakukan melalui pendekatan yang terukur, humanis, dan mengutamakan keselamatan warga. Kehadiran aparat keamanan perlu diiringi komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat agar langkah pengamanan dapat berjalan secara efektif dan memperoleh dukungan publik. Di sisi lain, warga juga perlu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, menjaga persaudaraan, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Pendekatan tersebut penting karena keamanan bukan semata-mata persoalan penindakan terhadap pelaku kekerasan. Pencegahan konflik, penguatan solidaritas sosial, dan penyelesaian persoalan melalui dialog juga menjadi bagian penting dalam menciptakan stabilitas. Dengan demikian, kerja sama masyarakat dan aparat dapat diarahkan untuk membangun rasa aman yang berkelanjutan, tanpa mengabaikan penghormatan terhadap adat, hak warga, dan ketentuan hukum yang berlaku. Sementara itu, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Deiyai, Bernard Pekei, mengajak masyarakat adat di 67 desa atau kampung di wilayahnya untuk berperan aktif menjaga ketertiban. Ia juga mendorong dukungan masyarakat terhadap program pemerintah pusat yang bertujuan memperkuat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan warga. Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi unsur penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga berbagai program dapat berjalan dan memberikan manfaat secara optimal. Bernard Pekei menilai bahwa masyarakat adat memiliki tanggung jawab bersama untuk merawat persatuan dan mencegah berkembangnya konflik. Nilai gotong royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap kehidupan yang telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Papua dapat menjadi fondasi untuk membangun perdamaian. Melalui keterlibatan aktif di lingkungan masing-masing, masyarakat dapat memperkuat ketahanan sosial sekaligus menciptakan ruang yang lebih aman bagi generasi muda untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan potensi. Pada akhirnya, masa depan Papua yang aman dan sejahtera membutuhkan komitmen bersama untuk menolak segala bentuk kekerasan. Pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat perlu terus membangun sinergi dengan mengedepankan perlindungan warga sipil, dialog, serta penghormatan terhadap hukum. Kecaman terhadap kekerasan harus diikuti langkah nyata untuk menjaga kerukunan dan mencegah konflik berulang. Selain itu, penguatan literasi masyarakat dan penyebaran informasi yang akurat perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kedamaian di Papua. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh provokasi maupun informasi yang belum terverifikasi, terutama yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan dan memecah persatuan. Tokoh adat, tokoh agama, serta pemimpin lokal dapat berperan aktif menyampaikan pesan perdamaian dan membangun komunikasi yang konstruktif. Dengan dukungan seluruh elemen masyarakat, upaya pemerintah dalam menjaga keamanan, meningkatkan pelayanan publik, dan mempercepat pembangunan di Papua diharapkan dapat berjalan lebih optimal demi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. )* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua