Kata Papua

Judi Daring Dinilai Mengancam Tumbuh Kembang Anak Indonesia - Kata Papua

Judi Daring Dinilai Mengancam Tumbuh Kembang Anak Indonesia

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Judi Daring Dinilai Mengancam Tumbuh Kembang Anak Indonesia

Jakarta, Judi daring dinilai menjadi ancaman serius terhadap tumbuh kembang anak Indonesia karena dapat memengaruhi kondisi psikologis, pola perilaku, hingga masa depan generasi muda. Kemudahan akses internet dan penggunaan gawai yang semakin luas membuat anak-anak rentan terpapar konten perjudian digital sejak usia dini apabila tidak disertai pengawasan yang memadai dari keluarga maupun lingkungan sekitar.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat upaya pemberantasan judi daring melalui pemutusan akses situs ilegal, pengawasan platform digital, serta peningkatan literasi digital di masyarakat. Menurutnya, perlindungan anak di ruang digital harus menjadi prioritas bersama.

“Judi daring bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga ancaman terhadap masa depan anak-anak Indonesia. Karena itu, pengawasan dan edukasi harus diperkuat secara berkelanjutan,” ujar Meutya.

Ia menjelaskan bahwa anak-anak yang terpapar judi daring berisiko mengalami kecanduan, gangguan konsentrasi belajar, hingga perubahan perilaku sosial. Selain itu, perjudian digital juga dapat memicu tindakan konsumtif dan mendorong anak mencari akses uang secara tidak sehat demi melanjutkan aktivitas perjudian.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), Agustinus Sirait menilai bahwa pengaruh judi daring terhadap anak dapat berkembang secara perlahan dan sering kali tidak disadari oleh orang tua. Menurutnya, banyak anak awalnya hanya mencoba permainan berbasis taruhan melalui iklan atau tautan yang muncul di media sosial.

“Anak-anak sangat mudah tertarik karena dikemas seperti permainan biasa. Padahal di dalamnya terdapat unsur perjudian yang dapat memicu kecanduan,” tuturnya.

 

Menurutnya, pengawasan penggunaan gawai dan edukasi mengenai bahaya judi daring perlu dilakukan sejak dini agar anak memiliki pemahaman yang kuat terhadap risiko yang dihadapi di ruang digital. Ia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan sekolah dalam membangun literasi digital yang sehat dan aman bagi pelajar.

 

Sementara itu, Guru besar tetap Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Indonesia (UI), Rose Mini Agoes Salim menilai judi daring dapat memengaruhi perkembangan emosional anak karena menimbulkan dorongan instan untuk mendapatkan keuntungan secara cepat. Kondisi tersebut dinilai berbahaya karena dapat membentuk pola pikir yang keliru terhadap proses kerja keras dan tanggung jawab.

 

“Jika dibiarkan, anak bisa kehilangan fokus belajar dan mengalami gangguan kontrol emosi akibat kecanduan bermain,” jelasnya.

 

Pemerintah sendiri terus mendorong kolaborasi antara keluarga, sekolah, platform digital, dan aparat penegak hukum untuk mempersempit ruang penyebaran judi daring. Langkah tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih aman sekaligus melindungi tumbuh kembang anak Indonesia di era teknologi yang semakin berkembang pesat.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.