Kata Papua

Keterlibatan TNI dalam Program MBG Demi Percepatan Target Distribusi - Kata Papua

Keterlibatan TNI dalam Program MBG Demi Percepatan Target Distribusi

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Keterlibatan TNI dalam Program MBG Demi Percepatan Target Distribusi

JAKARTA — Keterlibatan TNI dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditegaskan pemerintah sebagai langkah strategis untuk mempercepat pembangunan infrastruktur layanan dan distribusi program prioritas nasional tersebut. Pemerintah menilai dukungan lintas institusi diperlukan agar target pemenuhan gizi bagi jutaan masyarakat dapat tercapai secara cepat, merata, dan tepat sasaran hingga ke wilayah terpencil.

 

Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol. (Purn.) Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa pelibatan TNI bukan berarti prajurit menjalankan tugas operasional dapur MBG, melainkan merupakan penugasan institusional untuk mendukung percepatan pembangunan dan penguatan ekosistem program.

 

Menurut Sony, pelaksanaan operasional dapur tetap dilakukan oleh yayasan dan relawan yang telah ditunjuk. Keterlibatan TNI difokuskan pada percepatan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dukungan logistik, serta penguatan tata kelola agar program dapat menjangkau masyarakat lebih luas dalam waktu singkat.

 

“Secara institusional diberikan tugas kepada TNI. Jadi jangan kemudian disambungkan bahwa tentara sekarang mengurus dapur. Yang menjalankan operasional tetap yayasan dan relawan,” ujar Sony.

 

Ia menjelaskan, keputusan melibatkan TNI dilatarbelakangi kebutuhan percepatan pembangunan ribuan SPPG pada tahap awal pelaksanaan MBG. Saat pemerintah menargetkan jutaan penerima manfaat, dibutuhkan institusi yang memiliki jaringan hingga tingkat daerah serta kemampuan mobilisasi yang cepat.

 

“Waktu itu targetnya 5.000 unit pelayanan. Kita belum memiliki gambaran siapa yang akan mendukung pembangunan seluruh dapur tersebut. Karena kebutuhan percepatan, maka diberikan penugasan kepada TNI,” jelasnya.

 

Menurut Sony, skema tersebut memungkinkan pembangunan berjalan lebih cepat dibandingkan apabila seluruh proses dilakukan melalui mekanisme pengadaan konvensional yang membutuhkan waktu lebih panjang.

 

Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN, Khairul Hidayati, menegaskan bahwa MBG merupakan program nasional lintas sektor yang membutuhkan dukungan berbagai kementerian dan lembaga.

 

“Program MBG bukan program satu lembaga, melainkan program nasional yang melibatkan banyak kementerian dan institusi agar pelaksanaannya berjalan terkoordinasi dan berdampak luas,” ujar Khairul.

 

Menurutnya, dukungan TNI memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pelaksanaan program serta memastikan layanan MBG dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

 

“Dukungan TNI membantu memastikan distribusi MBG berjalan tertib, aman, dan tepat sasaran, terutama di wilayah dengan tantangan geografis,” tambahnya.

 

Komitmen keterlibatan TNI dalam mendukung kesejahteraan masyarakat juga sejalan dengan pandangan Presiden Prabowo Subianto mengenai peran tentara sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rakyat.

 

“Penderitaan rakyat adalah penderitaan tentara. Karena tentara, awaknya, anggotanya adalah anak-anak rakyat,” ujar Presiden Prabowo.

 

Presiden menegaskan bahwa keamanan tidak hanya berkaitan dengan stabilitas dan ketertiban semata, tetapi juga mencakup kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, rasa aman pertama yang harus dimiliki setiap keluarga adalah terbebas dari kelaparan dan kekurangan gizi.

 

Karena itu, pemerintah memandang keterlibatan TNI dalam mendukung percepatan MBG sebagai bagian dari upaya memastikan program prioritas nasional dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.