Kata Papua

Kunjungan Paus Fransiskus Momentum Tingkatkan Toleransi Beragama - Kata Papua

Kunjungan Paus Fransiskus Momentum Tingkatkan Toleransi Beragama

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Kunjungan Paus Fransiskus Momentum Tingkatkan Toleransi Beragama

Jakarta – Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia dengan populasi Muslim terbesar di dunia, telah menjadi momen bersejarah yang tidak hanya memperkuat hubungan bilateral antara Vatikan dan Indonesia, tetapi juga meneguhkan semangat toleransi beragama di negeri ini.

Perjalanan Paus yang diwarnai dengan pertemuan-pertemuan lintas agama, dialog dengan pemimpin-pemimpin agama, serta sambutan hangat dari masyarakat Indonesia, telah menjadi saksi bagaimana perbedaan keyakinan dapat dirangkul dalam semangat persaudaraan dan perdamaian.

Plt. Deputi Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Janedjri M. Gaffar menyatakan sesuai arahan Menko Polhukam Hadi Tjahjanto, Pemerintah memastikan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia yang akan dilaksanakan pada 3 s.d. 6 September 2024 dapat berjalan dengan tertib, aman, dan lancar.

“Sesuai arahan Menko Polhukam, kita semua membahas kesiapan dari semua elemen agar bisa Kunjungan Paus Fransiskus bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Kunjungan Paus Fransiskus ini diharapkan dapat menjadi katalisator untuk memperdalam pemahaman, menghargai perbedaan, dan membangun jembatan perdamaian antara berbagai komunitas agama di Indonesia.

Lafadz Nusantara Center mengajak semua pemeluk agama di luar Gereja Katolik Indonesia, untuk menyambut baik dan mensukseskan agenda kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia.

“Hendaknya seluruh pihak para pemeluk agama di Indonesia mendukung dan apreasiasi kedatangan tokoh Paus Fransiskus ke Indonesia” kata Direktur Utama Lafadz Nusantara Center, Deni Iskandar saat beraudiensi dan bersilaturahmi dengan pemeluk agama Baha’i di Indonesia, di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Seperti diketahui, Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, berlangsung di Jakarta, dan selama di Indonesia, Paus Fransiskus mengunjungi beberapa tempat, diantaranya Katedral Jakarta, Istana Negara, Masjid Istiqlal Jakarta, dan Gelora Bung Karno Jakarta.

“Kami menyampaikan kepada pemeluk agama Baha’i, bahwa dalam agenda kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia ini, ada agenda yang penting dan itu bisa menjadi momentum yang baik bagi bangsa Indonesia, yakni agenda Dialog Paus Fransiskus di Masjid Istiqlal bersama tokoh-tokoh Agama,” terang Deni.

Senada, umat agama Baha’i di Indonesia, Nasrin Astani menyambut baik Silaturahmi Lafadz Nusantara Center kepada umat Baha’i Indonesia, dan juga memberikan apresiasi yang sangat tinggi untuk siap menyukseskan agenda kunjungan Paus Fransiskus.

“Kami sangat mengapresiasi agenda kunjungan Paus Fransiskus. Karena yang kami tahu, sosok Paus Fransiskus ini sangatlah lantang bicara soal Kemanusiaan dan Persaudaraan manusia. Kemudian semangat itu juga ada dalam ajaran kami (agama Baha’i) dan untuk di Indonesia, itu semua sudah ada dalam nilai-nilai Pancasila. Kami dari umat Baha’i siap mensukseskan agenda kedatangan Paus Fransiskus ini,” terang Nasrin Astani.

***

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko 

CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko Oleh Ananda Rusdian Upaya membangun bangsa yang sehat tidak cukup dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang berpusat di fasilitas kesehatan formal semata. Tetapi negara juga hadir menjangkau kelompok-kelompok yang berada dalam posisi rentan, baik karena kondisi sosial, lingkungan hidup, maupun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Untuk itu, peluncuran Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia dipandang sebagai langkah strategis sekaligus berkeadilan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa hak atas kesehatan menjangkau seluruh warga negara, termasuk warga binaan pemasyarakatan yang selama ini kerap luput dari perhatian publik.                           Program ini menegaskan bahwa pemerintah mulai menempatkan kesehatan sebagai hak dasar yang harus diakses oleh semua orang tanpa kecuali. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa arahan Presiden adalah agar program kesehatan menyasar seluruh masyarakat, termasuk ratusan ribu warga binaan di lapas dan rutan. Pernyataan itu penting karena memperlihatkan perubahan cara pandang negara bahwa warga binaan bukan sekadar objek pembinaan hukum, melainkan tetap subjek pembangunan yang berhak memperoleh perlindungan kesehatan secara layak.