Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerintah Mobilisasi Lembaga Halal untuk Dampingi UMKM Jelang Oktober 2026 - Kata Papua

Pemerintah Mobilisasi Lembaga Halal untuk Dampingi UMKM Jelang Oktober 2026

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Pemerintah memperkuat kesiapan pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) menghadapi pemberlakuan Wajib Halal yang akan dimulai pada 18 Oktober 2026. Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian/lembaga serta mobilisasi Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) dan Pendamping Proses Produk Halal (P3H) untuk mempercepat proses sertifikasi halal bagi pelaku usaha.

Kebijakan Wajib Halal merupakan amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2024. Mulai 18 Oktober 2026, kewajiban tersebut mencakup sejumlah kategori produk, termasuk makanan dan minuman, hasil sembelihan, kosmetik, bahan baku pangan, serta sejumlah barang gunaan.

Pelaksana Tugas Deputi II Kantor Staf PresidenPemerintah Mobilisasi Lembaga Halal untuk Dampingi UMKM Jelang Oktober 2026, Popy Rufaidah, menegaskan bahwa implementasi Wajib Halal pada 18 Oktober 2026 harus dipersiapkan dan dilaksanakan sesuai amanat peraturan perundang-undangan. Pemerintah juga memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk memastikan berbagai kebutuhan implementasi dapat diselesaikan sebelum batas waktu tersebut.

“Implementasi Wajib Halal ditetapkan pada 18 Oktober 2026, sebagai amanat undang-undang yang harus dijalankan,” tegas Popy.

Sementara itu, Deputi Bidang Registrasi dan Sertifikasi Halal BPJPH, Mamat S Burhanudin, mengatakan penguatan sertifikasi dilakukan melalui kolaborasi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Upaya tersebut didukung penguatan ekosistem serta pemanfaatan data agar pelaku usaha memperoleh akses yang semakin mudah untuk memenuhi kewajiban sertifikasi halal.

“Penguatan dilakukan melalui optimalisasi berbagai skema sertifikasi halal seperti fasilitasi pelaku usaha melalui kolaborasi dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah,” ujar Mamat.

Peran LP3H dan P3H menjadi penting karena pelaku UMK membutuhkan pendampingan dalam memahami persyaratan, menyiapkan dokumen, hingga menjalani proses sertifikasi. BPJPH sebelumnya menegaskan LP3H dan P3H merupakan bagian penting dalam pendampingan usaha mikro dan kecil, terutama untuk mempercepat pemenuhan sertifikasi halal.

Pemerintah juga menyediakan dukungan sertifikasi halal gratis bagi UMK. BPJPH menyebut sebanyak 1,35 juta sertifikat halal digratiskan bagi usaha mikro dan kecil pada 2026 sebagai bagian dari persiapan menuju Wajib Halal Oktober 2026.

Dengan penguatan koordinasi dan pendampingan hingga tingkat daerah, pelaku UMK diharapkan dapat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk memastikan produk mereka memenuhi ketentuan halal. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang tertib, memberikan kepastian kepada konsumen, dan membuka peluang peningkatan daya saing produk UMK.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Jaga Produksi Pangan, Pemerintah Perkuat Asuransi bagi Petani

Oleh : Catur Ronggo Ketahanan pangan nasional pada akhirnya bertumpu pada kemampuan petani untuk terus menanam dan memanen. Karena itu, ketika risiko gagal panen meningkat akibat kekeringan, banjir, maupun serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), perlindungan melalui asuransi menjadi bagian penting dari strategi menjaga ketersediaan pangan. Dalam konteks inilah Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) semakin relevan, terlebih pemerintah tengah mengantisipasi potensi El Nino pada 2026. Kementerian Pertanian mengalokasikan perlindungan AUTP untuk 100 ribu hektare lahan pertanian pada 2026. Kebijakan asuransi tersebut bukan sekadar kompensasi ketika kerugian terjadi, melainkan jaring pengaman finansial agar petani tetap memiliki kemampuan melanjutkan usaha tani. Dengan asuransi, kerugian akibat gagal panen tidak sepenuhnya menjadi beban petani sehingga modal untuk musim tanam berikutnya tetap dapat dijaga. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempatkan perlindungan petani melalui asuransi sebagai bagian dari langkah pemerintah menjaga produksi pangan nasional menghadapi tantangan iklim. Pemerintah tidak hanya memperkuat pengelolaan sumber daya air dan mempercepat pompanisasi, tetapi juga menyiapkan AUTP untuk mengantisipasi risiko gagal panen akibat kekeringan, banjir, dan OPT. Amran tetap optimistis sektor pangan dapat menghadapi El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga enam bulan. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa asuransi pertanian ditempatkan sebagai pelengkap mitigasi teknis. Risiko kekeringan dihadapi melalui penguatan sumber air dan pompanisasi, sedangkan risiko kerugian petani diperkuat melalui asuransi. Pola ini penting karena ketahanan pangan tidak cukup dibangun dengan mengejar luas tanam dan produksi, tetapi juga memastikan petani memiliki daya tahan ekonomi ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian Andi Nur Alam Syah menjelaskan bahwa mitigasi kekeringan memang tidak cukup mengandalkan intervensi teknis. Infrastruktur pengairan dan pompanisasi perlu dilengkapi perlindungan finansial melalui AUTP. Menurutnya, asuransi dibutuhkan ketika berbagai upaya mitigasi telah dilakukan, tetapi gagal panen tetap terjadi. Andi menjelaskan bahwa AUTP menanggung risiko kekeringan, banjir, serta serangan OPT seperti wereng, tikus, dan penyakit blas pada padi. Premi asuransi ditetapkan Rp180 ribu per hektare per musim tanam, dengan subsidi pemerintah sebesar 80 persen atau Rp144 ribu. Dengan demikian, petani hanya membayar Rp36 ribu per hektare. Peserta yang memenuhi ketentuan kerusakan tanaman minimal 75 persen dapat memperoleh klaim asuransi hingga Rp6 juta per hektare per musim tanam. Skema asuransi tersebut menunjukkan keberpihakan negara terhadap keberlanjutan usaha petani. Gagal panen bukan hanya menghilangkan pendapatan, tetapi juga dapat menguras modal yang seharusnya digunakan untuk kembali menanam. Melalui asuransi, petani memperoleh ruang untuk memulihkan modal dan melanjutkan produksi tanpa harus menanggung seluruh risiko pertanian seorang diri. Implementasi asuransi tersebut juga terlihat di Kabupaten Tegal. Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal Endro Nor Susilo menyampaikan bahwa pemerintah daerah mengalokasikan Rp300 juta pada 2026 untuk fasilitasi premi AUTP. Anggaran tersebut diarahkan untuk melindungi lahan seluas 1.600 hektare. Premi asuransi sebesar Rp180 ribu per hektare ditanggung penuh pemerintah daerah sehingga petani memperoleh perlindungan dengan nilai klaim hingga Rp6 juta per hektare sesuai ketentuan. Endro menjelaskan program tersebut telah berjalan sejak 2021 dan pada 2026 cakupannya diperluas melalui pembiayaan premi menggunakan APBD. Menurutnya, asuransi bukan hanya memberikan santunan ketika petani mengalami puso, tetapi menjaga keberlangsungan usaha tani agar petani dapat kembali menanam setelah mengalami kerugian. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana kebijakan asuransi nasional dapat diterjemahkan menjadi perlindungan konkret di tingkat daerah. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan asuransi pertanian membutuhkan sinergi pemerintah pusat dan daerah. Dukungan fasilitasi premi melalui APBD dapat memperluas kepesertaan dan menjangkau petani yang menghadapi risiko tinggi. Dengan semakin luasnya cakupan asuransi, semakin besar pula kemampuan petani mempertahankan modal produksi ketika bencana pertanian terjadi. Di sisi lain, keberadaan asuransi memberikan kepastian bagi petani dalam menghadapi ketidakpastian produksi. Asuransi membuat petani memiliki mekanisme pemulihan ketika risiko berubah menjadi kerugian, sehingga kegiatan budidaya dapat segera dilanjutkan dan pasokan pangan tetap terjaga pada musim berikutnya. Tantangan berikutnya adalah memastikan petani memahami manfaat, persyaratan, dan mekanisme asuransi. Sosialisasi melalui kelompok tani dan penyuluh perlu diperkuat agar program tidak hanya meningkat secara angka, tetapi benar-benar menjangkau petani yang membutuhkan. Administrasi dan proses pengajuan klaim asuransi juga perlu dibuat mudah, transparan, dan responsif agar fungsi asuransi sebagai jaring pengaman dapat dirasakan secara nyata. Pada akhirnya, asuransi petani bukan sekadar persoalan perlindungan finansial. Asuransi merupakan bagian dari upaya menjaga dapur rakyat tetap mengepul dan memastikan rantai pasok pangan nasional tidak mudah terganggu oleh risiko iklim. Ketika pemerintah memperkuat pompanisasi, pengelolaan air, subsidi premi, dan AUTP secara bersamaan, negara sedang membangun sistem ketahanan pangan yang lebih tangguh. Langkah tersebut memperkuat agenda swasembada pangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sekaligus menegaskan bahwa melindungi petani melalui asuransi berarti menjaga pangan, kesejahteraan rakyat, dan ketahanan negara. *) Penulis merupakan Pengamat pertanian