Kata Papua

Presiden Tegaskan APBN Jadi Fondasi Perlindungan Ekonomi Rakyat - Kata Papua

Presiden Tegaskan APBN Jadi Fondasi Perlindungan Ekonomi Rakyat

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Presiden Tegaskan APBN Jadi Fondasi Perlindungan Ekonomi Rakyat

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi fondasi utama dalam menjaga perlindungan ekonomi rakyat di tengah tantangan global yang penuh ketidakpastian.

 

Penegasan tersebut disampaikan Presiden saat memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 di Kompleks Parlemen DPR/MPR RI.

 

Presiden menjelaskan pemerintah tetap optimistis terhadap prospek ekonomi nasional meski dunia sedang menghadapi tekanan geopolitik dan geoekonomi.

 

Menurutnya, strategi ekonomi yang tepat serta kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan akan menjadi kunci menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia.

 

“Dengan strategi ekonomi yang tepat, kebijakan fiskal yang prudent dan berkelanjutan, saya yakin ekonomi Indonesia dapat tumbuh pada kisaran 5,8 hingga 6,5 persen di tahun 2027 menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029,” ujar Presiden Prabowo.

 

Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi tersebut berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat melalui penurunan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka. Dalam RAPBN 2027, angka kemiskinan diproyeksikan turun menjadi 6,0 hingga 6,5 persen, sementara tingkat pengangguran terbuka ditargetkan turun ke kisaran 4,30 hingga 4,87 persen.

 

Untuk mendukung berbagai program prioritas nasional, pemerintah merencanakan belanja negara pada APBN 2027 berada di kisaran 13,62 hingga 14,80 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

 

Sementara pendapatan negara ditargetkan mencapai 11,82 hingga 12,40 persen PDB dengan defisit anggaran dijaga pada rentang 1,80 hingga maksimal 2,40 persen PDB.

 

Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai kehadiran langsung Presiden dalam menyampaikan RAPBN 2027 menjadi langkah penting untuk membangun kembali kepercayaan publik dan investor terhadap arah ekonomi nasional.

 

“Urgensi utama dari pidato langsung Presiden sebenarnya terletak pada kebutuhan membangun kembali kepercayaan,” kata Achmad.

 

Ia menilai pelaku pasar saat ini tidak hanya memperhatikan angka APBN, tetapi juga konsistensi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

 

“Investor membaca situasi ini dengan sangat sensitif. Mereka tidak hanya melihat angka APBN, tetapi juga konsistensi kebijakan,” ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyebut penyampaian langsung KEM-PPKF oleh Presiden menjadi tradisi baru dalam pembahasan kerangka ekonomi makro di DPR.

 

Langkah tersebut dinilai mempertegas keseriusan pemerintah menjaga stabilitas fiskal dan perlindungan ekonomi rakyat.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II 

Tokoh Adat Papua Serukan Mahasiswa Tolak Provokasi Demo Reformasi Jilid II Oleh : Yohanes Wandikbo Munculnya provokasi aksi yang mengatasnamakan Reformasi Jilid II di sejumlah daerah perlu disikapi secara bijak, khususnya oleh kalangan mahasiswa dikenal sebagai kelompok intelektual dan agen perubahan. Di Papua, seruan untuk menjaga stabilitas dan menghindari tindakan provokatif mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat yang mengingatkan pentingnya mengedepankan dialog serta penyampaian aspirasi secara damai. Pesan tersebut menjadi relevan mengingat Papua saat ini sedang berada dalam fase penting pembangunan yang membutuhkan suasana aman dan kondusif.         Setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum selama dilakukan sesuai aturan yang berlaku. Namun, demokrasi juga menuntut tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan secara damai akan memberikan ruang bagi terbangunnya komunikasi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Sebaliknya, aksi yang disertai provokasi, kekerasan, atau tindakan anarkis justru berpotensi merugikan kepentingan masyarakat luas.         Dalam konteks tersebut, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan, Malaikat Alpius Tabuni, mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak dalam pola demonstrasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, penyampaian aspirasi harus dilakukan secara profesional dan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Pandangan tersebut mencerminkan harapan agar ruang demokrasi tetap terjaga tanpa mengorbankan stabilitas yang selama ini terus dibangun.         Papua memiliki pengalaman panjang terkait dampak sosial dan ekonomi yang muncul ketika situasi keamanan terganggu. Berbagai aktivitas masyarakat dapat terhenti, mulai dari kegiatan pendidikan, perdagangan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi lainnya. Karena itu, upaya menjaga ketertiban bukan sekadar persoalan keamanan semata, melainkan bagian dari ikhtiar untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas.