Oleh Hanum Sekarningrum
Ketahanan ekonomi Indonesia terus menunjukkan perkembangan positif di tengah ketidakpastian keuangan global. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya cadangan devisa nasional menjadi USD146,8 miliar pada akhir Oktober 2026, dibandingkan posisi September sebesar USD146,3 miliar. Peningkatan ini mencerminkan kemampuan Indonesia menjaga ketahanan sektor eksternal melalui pengelolaan devisa yang hati-hati dan terukur. Di tengah kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah serta upaya stabilisasi nilai tukar rupiah, ketersediaan cadangan devisa menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan nasional secara berkelanjutan.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perubahan posisi cadangan devisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Sementara itu, pembayaran kewajiban utang pemerintah dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah turut memengaruhi pergerakan devisa. Menurut Ramdan, kebijakan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengelolaan devisa memerlukan strategi yang cermat agar Indonesia tetap mampu memenuhi kewajiban internasional sekaligus menjaga kestabilan perekonomian.
Dari sisi kecukupan, cadangan devisa sebesar USD146,8 miliar tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor sekaligus pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi ini berada di atas standar kecukupan internasional yang umumnya ditetapkan sekitar tiga bulan impor. Artinya, Indonesia mempunyai cadangan yang cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal, termasuk perubahan arus modal dan gejolak pasar keuangan internasional. BI menilai posisi tersebut mampu memperkuat ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional.
Ramdan juga menyampaikan bahwa prospek ketahanan eksternal Indonesia masih didukung oleh kecukupan cadangan devisa dan peluang masuknya modal asing. Persepsi positif investor terhadap perekonomian nasional serta tingkat imbal hasil investasi yang menarik menjadi faktor pendukung. Oleh karena itu, koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah terus ditingkatkan untuk mempertahankan stabilitas ekonomi sekaligus menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan. Pengelolaan devisa yang prudent diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor dan memberikan perlindungan terhadap perekonomian dari berbagai risiko global.
Di sisi lain, kinerja perekonomian nasional sepanjang 2026 juga memperlihatkan perkembangan positif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen pada triwulan III-2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen. Peningkatan ini didorong oleh belanja pemerintah yang diperkuat selama triwulan II dan III melalui sejumlah program prioritas, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP). Airlangga menjelaskan bahwa peningkatan belanja tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung aktivitas ekonomi nasional.
Selain konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga juga tumbuh sebesar 5,04 persen dengan kontribusi mencapai 51,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih menjadi penggerak utama perekonomian Indonesia. Secara keseluruhan, ekonomi nasional tumbuh 5,47 persen pada triwulan III-2026, meningkat dibandingkan triwulan II-2026 yang tercatat sebesar 5,29 persen.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan yang berkontribusi 19,22 persen terhadap PDB tumbuh sebesar 5,87 persen. Pertumbuhan tersebut didukung subsektor makanan dan minuman sebesar 7,09 persen, kimia dan farmasi 8,10 persen, logam dasar 9,94 persen, serta alat angkutan dan otomotif 6,14 persen. Sementara itu, sektor konstruksi mengalami pertumbuhan 6,42 persen. Peningkatan tersebut turut didukung pelaksanaan proyek prioritas pemerintah, seperti pembangunan KDKMP dan Sekolah Rakyat. Berbagai proyek tersebut tidak hanya memperkuat pembangunan infrastruktur, tetapi juga mendorong kebutuhan tenaga kerja, bahan bangunan, serta aktivitas usaha pendukung.
Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi juga terlihat dari sejumlah indikator pada Oktober 2026. Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai 54,0, meningkat dibandingkan September sebesar 52,4. Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri tercatat 53,77, penjualan listrik meningkat 9,21 persen, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen berada pada level optimistis sebesar 118,1. Menurut Airlangga, indikator tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas produksi, konsumsi, dan kegiatan usaha masih berkembang dengan baik.
Pemerintah memperkirakan momentum pertumbuhan ekonomi dapat berlanjut hingga triwulan IV-2026. Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diperhatikan, terutama kenaikan harga pangan dan energi serta dinamika nilai tukar rupiah yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. Airlangga menilai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen menunjukkan bahwa kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo berada pada jalur yang tepat, dengan dukungan fundamental ekonomi yang kuat dan investasi yang terus meningkat.
Berbagai keberhasilan pemerintah, termasuk penguatan program prioritas, peningkatan belanja produktif, pembangunan fasilitas pendidikan, dan pengembangan ekonomi desa, menjadi bagian dari upaya menjaga pertumbuhan nasional. Melalui penguatan sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia, Indonesia diharapkan mampu menjaga ketahanan cadangan devisa, menghadapi dinamika dan ketidakpastian global, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil, inklusif, dan berdampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
)* penulis merupakan pengamat ekonomi



