Lompat ke konten utama

Kata Papua

RKUHP Bukan Untuk Membungkam Kritik - Kata Papua

RKUHP Bukan Untuk Membungkam Kritik

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

RKUHP Bukan Untuk Membungkam Kritik
Oleh : Alula Khairunisa )*
Pasal larangan penghinaan presiden dan wakil presiden dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) sebaiknya tidak perlu menjadi polemik di masyarakat. sebab, pasal tersebut berisi larangan untuk menghina, bukan mengkritik dan masuk dalam kategori delik aduan.
Dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), Definisi kritik ditambahkan dalam penjelasan pasal 218 ayat 2 tentang penyerangan kehormatan atau harkat dan martabat Presiden dan Wakil Presiden.
Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham), Edward Omar Sharif Hiariej mengatakan, kritik yang dimaksud adalah untuk kepentingan umum yang diungkapkan dengan hak berekspresi dan berdemokrasi.
Dalam pasal 218 tertulis, (1) Setia orang yang di muka umum menyerang kehormatan atau harkat dan martabat diri Presiden atau Wakil Presiden dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori IV. (2) Tidak merupakan penyerangan kehirmatan atau harkat dan martabat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika perbuatan dilakukan untuk kepentingan umum atau pembelaan diri.
Kritik untuk kepentingan umum adalah kritik atau pendapat berbeda dengan kebijakan presiden atau wakil presiden. Harus disertai dengan pertimbangan baik buruk kebijakannya. Kritik yang ditujukan kepada pemerintah sebisa mungkin adalah kritik yang konstruktif dan memberikan alternatif solusi atau kritik itu harus dengan cara objektif.
Selain itu, kritik yang ditujukan kepada presiden dan wakil presiden juga tidak bermuatan merendahkan atau menyerang harkat dan martabat, menyinggung karakter atau kehidupan pribadi.
Juru Bicara Tim Sosialisasi RKUHP Kemenkumham Albert Aries mengatakan untuk membedakan kritik dan delik itu sangatlah mudah. Delik pidana dalam hal tersebut seperti seorang mahasiswa yang mengucapkan kata-kata kotor kepada presiden. Adapun dalam KUHP yang baru delik pidana penghinaan kepada Presiden baru bisa berjalan jika ada aduan dari pejabat presiden tersebut.
Aries menegaskan bahwa pasal 218 RKUHP berbeda dengan pasal 134 KUHP dan membawa semangat dekolonisasi dan semangat demokratisasi. Ia beralasan, pasal 218 di RKUHP terbaru iini pengaturannya dibuat sebagai jenis delik aduan. Dengan kata lain, hanya presiden yang memiliki legal standing untuk mengadu, simpatisan atau pihak ketiga manapun muga tidak bisa melaporkan adanya penghinaan terhadap presiden ke polisi. Selain itu, ancaman sanksi pidananya di bawah 5 tahun sehingga tidak dapat dilakukan penahanan, serta sanksinya tidak harus dipenjara, tapi bisa didenda.
Ditambahkannya, perlindungan hukum pidana atas harkat dan martabat presiden memang perlu dilakukan untuk membedakan diri presiden dengan warga biasa, karena sebenarnya dengan atau tanpa adanya pasal ini presiden tetap bisa mengadu dengan pasal penghinaan biasa, bedanya dalam pasal 218 RKUHP sanksi pidananya diperberat untukmembedakan perlakuannya sebagaimana pengaturan pasal-pasal lainnya.
Aries juga merespons terkait dengan penghinaan terhadap pemerintah atau lembaga umum yang ramai dibicarakan sesuai pasal 240 RKUHP. Ia menyebutkan, pasal 240 RKUHP mengubah pasal 154 KUHP yang tadinya delik abstrak menjadi delik konkret. Dengan demikian, semangat kolonial pasal 154 KUHP berubah. Oleh karena itu hal ini membuktikan bahwa semangat dekolonialisasi dalam RKUHP sangat jelas.
Perlu diketahui bahwa ciri pasal kolonial basanya selalu berbentuk ‘delik biasa’ (semua orang bisa melaporkan), sedangkan dalam pasal 218 RKUHP tentang penyerangan harkat dan martabat diri presiden terhadap presiden atau Pasal 351 RKUHP tentang penghinaan terhadap lembaga umum jenisnya delik aduan, di mana hanya pengadu sebagai orang yang dirugikan bisa langsung membuat pengaduan.
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly telah memastikan bahwa pasal penghinaan Presiden dan Wakil Presiden tersebut sama sekali tidak memiliki niat untuk membatasi kritik. Apalagi peraturan perundang-undangan yang ada di Indonesia juga membuka ruang atas kritik tersebut.
Secara tegas Yasonna mengatakan bahwa pasal penghinaan Presiden dan Wakil Presiden di RKUHP ini berbeda dengan pasal sejenis yang pernah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Dirinya menilai bahwa terlalu liberal jika membiarkan penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden.
Wakil Ketua Komisi III DPR Adies Kadir menilai, penyempurnaan di dalam RKUHP sudah sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. UU ini juga tidak akan merugikan masyarakat.
RKUHP merupakan carry over atau operan dari DPR periode sebelumnya yang masuk ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2022. Pemerintah disebutnya tidak terburu-buru untuk mengesahkannya.
Hukum merupakan cerminan kesadaran serta keunikan masyarakat dan keberadaannya harus dipahami oleh seluruh elemen di dalamnya. Oleh sebab itu, RKUHP memberi tempat penting atas konsep restorative justice yang dewasa ini mulai menjadi kebutuhan dan kesadaran hukum masyarakat.
Tanpa RKUHP Presiden juga bisa menuntut siapapun yang menghinanya, tetapi keberadaan RKUHP tentu saja bertujuan untuk menjadi pembeda antara Presiden dengan masyarakat biasa. Bagaimana pun juga RKUHP tidak mengancam pengkritik dengan penjara, tetapi tentu saja ada aturan yang harus dipahami untuk memberikan kritik kepada pemerintah.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Lapangan Kerja, Upskilling, dan Kepastian Usaha Harus Menjadi Napas RUU Ketenagakerjaan

Oleh : Abdul Razak Pemerintah bersama DPR RI tengah mempercepat pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perlindungan Ketenagakerjaan sebagai upaya menjawab perubahan dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Regulasi baru tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat perlindungan pekerja, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif, mendorong peningkatan keterampilan, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan pembahasan RUU tersebut kini berlangsung secara intensif bersama DPR. Pemerintah menargetkan regulasi mengenai perlindungan tenaga kerja itu dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026. Yassierli menilai tantangan ketenagakerjaan nasional tidak ringan. Dari sekitar 155 juta angkatan kerja Indonesia, sekitar 60 persen berada di sektor informal. Kelompok tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan pekerja formal karena sebagian besar belum memperoleh jaminan sosial maupun perlindungan hari tua yang memadai. Menurut Yassierli, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk memastikan perlindungan ketenagakerjaan dapat mencakup seluruh pekerja tanpa membedakan status formal maupun informal. Regulasi baru diharapkan menjadi landasan yang lebih kuat dalam memberikan kepastian hak sekaligus memperluas kepesertaan program perlindungan sosial. Yassierli menyebut penyelesaian regulasi tersebut diharapkan menjadi tonggak baru perlindungan ketenagakerjaan di Indonesia. Selain melalui pembentukan undang-undang, Kementerian Ketenagakerjaan juga akan mendorong peningkatan kepesertaan perlindungan sosial bagi pekerja. Urgensi perlindungan tersebut semakin besar seiring Indonesia menghadapi perubahan struktur demografi. Saat ini Indonesia masih menikmati bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun, kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya karena Indonesia diproyeksikan memasuki fase aging population. Yassierli menekankan pentingnya penguatan program dana pensiun agar masyarakat yang memasuki usia lanjut tetap memiliki sumber pendapatan dan tidak sepenuhnya bergantung kepada generasi yang masih produktif. Menurutnya, menjaga kehidupan masyarakat setelah masa kerja merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Di sisi lain, RUU Perlindungan Ketenagakerjaan juga perlu menjawab kebutuhan pekerja di tengah perubahan struktur ekonomi dan teknologi. Perlindungan tidak cukup hanya diberikan ketika terjadi pemutusan hubungan kerja, tetapi juga perlu disertai upaya meningkatkan kemampuan pekerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri. Program upskilling dan reskilling menjadi semakin relevan karena perkembangan teknologi dapat mengubah jenis pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, serta pola hubungan kerja. Pekerja perlu memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kemampuan agar tidak tertinggal oleh perubahan dunia usaha. Dengan demikian, perlindungan ketenagakerjaan dapat berjalan beriringan dengan peningkatan produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Pada saat yang sama, kepastian usaha juga menjadi bagian penting dalam penyusunan regulasi. Dunia usaha membutuhkan aturan yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan agar mampu mengambil keputusan investasi, melakukan ekspansi, serta menciptakan lapangan pekerjaan secara berkelanjutan. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh menjelaskan bahwa DPR mengusulkan perluasan jaminan sosial bagi pekerja, termasuk mekanisme jaminan pesangon. Usulan tersebut tercantum dalam Pasal 129 RUU Perlindungan Ketenagakerjaan dan merupakan inisiatif DPR, bukan usulan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia maupun serikat buruh. Nihayatul menjelaskan, selama ini perusahaan pada dasarnya telah melakukan pencadangan kewajiban imbalan kerja sebagaimana diatur dalam PSAK 24. Namun, dana tersebut masih berada di dalam perusahaan dan belum dipisahkan dari kekayaan perusahaan. Karena itu, DPR mengusulkan agar dana jaminan pesangon dikelola melalui BPJS Ketenagakerjaan. Mekanisme tersebut dinilai dapat memberikan kepastian bagi pekerja sekaligus mengurangi potensi beban perusahaan ketika terjadi persoalan keuangan atau pemutusan hubungan kerja. Nihayatul mengatakan usulan tersebut salah satunya berkaca pada kasus perusahaan yang mengalami kepailitan dan kemudian tidak mampu memenuhi kewajiban pesangon. Kasus PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex menjadi salah satu contoh yang disebutnya karena berdampak terhadap sekitar 10.000 pekerja. Menurut Nihayatul, mekanisme jaminan pesangon perlu diperkuat agar pekerja tetap memperoleh hak ketika perusahaan menghadapi kondisi sulit. DPR juga mendorong adanya kontribusi pemerintah dalam skema tersebut, sehingga pembiayaan tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab perusahaan. Penguatan perlindungan pekerja pada akhirnya perlu ditempatkan dalam kerangka yang seimbang. Regulasi harus mampu menjamin hak pekerja, mendorong peningkatan kompetensi, sekaligus memberikan kepastian bagi pengusaha dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Keseimbangan tersebut penting agar perlindungan tidak menjadi beban yang menghambat penciptaan lapangan kerja, melainkan menjadi fondasi hubungan industrial yang lebih sehat. Dengan target penyelesaian pada akhir