Lompat ke konten utama

Kata Papua

Pemerintah Gratiskan Penggantian Dokumen Warga Terdampak Gempa NTT - Kata Papua

Pemerintah Gratiskan Penggantian Dokumen Warga Terdampak Gempa NTT

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Jakarta – Pemerintah memastikan warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kehilangan atau mengalami kerusakan dokumen kependudukan dapat memperoleh penggantian tanpa biaya. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah untuk memastikan masyarakat tidak menghadapi beban administratif tambahan setelah bencana, sekaligus menjaga hak warga atas dokumen identitas yang dibutuhkan untuk mengakses berbagai layanan publik.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menugaskan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan turun langsung membantu masyarakat. Dokumen yang dapat diterbitkan kembali antara lain KTP-el, Kartu Keluarga (KK), dan akta kelahiran.

“Orang lagi susah jangan dibikin susah lagi, kita bantu,” kata Tito saat meninjau posko pengungsian di Nagekeo, NTT.

Tito menjelaskan, proses penerbitan ulang relatif mudah karena data kependudukan masyarakat telah tersimpan secara digital dalam sistem Dukcapil. Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lain untuk membantu pemulihan dokumen penting di luar administrasi kependudukan, termasuk dokumen pertanahan serta dokumen kendaraan dan surat izin mengemudi bagi warga terdampak.

Direktur Jenderal Dukcapil Teguh Setyabudi dijadwalkan memimpin tim yang bergerak ke sejumlah wilayah terdampak mulai 24 Agustus 2026. Enam tim pelayanan disiapkan untuk menjangkau Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Setiap tim dibekali perangkat rekam-cetak KTP-el dan perlengkapan pendukung agar pelayanan dapat dilakukan secara langsung di lapangan.

Layanan jemput bola tersebut juga didukung perangkat pencetakan KTP-el bergerak, blangko KTP-el, jaringan komunikasi satelit, serta peralatan lain yang dibutuhkan untuk menghadapi kondisi wilayah terdampak. Pendekatan langsung ke masyarakat dinilai penting karena sebagian desa masih menghadapi kendala akses akibat dampak gempa.

Pemulihan administrasi juga penting untuk memperlancar akses warga terhadap bantuan sosial, layanan kesehatan, pendidikan, perbankan, hingga berbagai program pemulihan pemerintah. Dengan data kependudukan yang kembali lengkap, proses verifikasi penerima bantuan dapat dilakukan lebih tertib dan akurat. Pemerintah juga mendorong warga segera melaporkan dokumen yang hilang atau rusak kepada petugas agar penggantian dapat diproses tanpa menunggu terlalu lama.

Pemerintah menilai pemulihan dokumen kependudukan merupakan bagian penting dari pemulihan pascabencana. Dengan layanan gratis dan jemput bola, warga dapat kembali memiliki identitas administrasi tanpa harus mengeluarkan biaya atau menempuh prosedur yang menyulitkan. Langkah ini sekaligus menunjukkan kehadiran negara dalam membantu masyarakat NTT bangkit dan memulihkan kehidupan setelah bencana.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn
On Key

Related Posts

Kualitas Hunian Jadi Fokus Percepatan Program 3 Juta Rumah 

Oleh Prasetyo Mulya Percepatan Program 3 Juta Rumah yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto kini tidak hanya diarahkan untuk mengejar jumlah hunian, tetapi juga memastikan kualitas rumah yang diterima masyarakat benar-benar layak, aman, nyaman, dan sesuai standar. Fokus terhadap kualitas menjadi penting agar program perumahan rakyat tidak sekadar menghasilkan angka pembangunan yang besar, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat berpenghasilan rendah secara nyata. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait terus memperkuat kolaborasi dengan Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) untuk mempercepat realisasi Program 3 Juta Rumah. Kerja sama pemerintah dan pengembang dinilai menjadi salah satu kunci untuk mengatasi berbagai persoalan yang masih muncul dalam pembangunan hunian, mulai dari aspek teknis, ketersediaan lahan, perizinan, pembiayaan, hingga penerapan standar kualitas bangunan. Dalam koordinasi bersama jajaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Himperra, Menteri Ara menegaskan bahwa percepatan pembangunan rumah subsidi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap kualitas. Pengembang tidak cukup hanya memenuhi target jumlah unit, tetapi juga harus memastikan rumah yang dibangun sesuai spesifikasi dan dapat memberikan rasa aman serta nyaman bagi masyarakat penerima manfaat. Kontribusi Himperra dalam program rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi salah satu gambaran perkembangan positif sektor perumahan. Dari target pembangunan sebanyak 47.000 unit rumah, Himperra telah merealisasikan lebih dari 22.000 unit. Capaian tersebut menunjukkan adanya keterlibatan aktif dunia usaha dalam mendukung agenda pemerintah memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang terjangkau. Maruarar Sirait mengapresiasi dukungan tersebut karena program rumah subsidi tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Dunia usaha, khususnya pengembang, memiliki posisi strategis dalam memastikan kebutuhan hunian masyarakat dapat dipenuhi. Menurutnya, kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai kemudahan di sektor perumahan harus diikuti dengan profesionalisme, integritas, dan komitmen pengembang dalam menjaga kualitas pembangunan. Perspektif tersebut menjadi semakin relevan karena keberhasilan Program 3 Juta Rumah seharusnya tidak hanya dihitung berdasarkan berapa banyak rumah yang selesai dibangun. Pemerintah juga perlu melihat apakah rumah tersebut benar-benar memenuhi standar kelayakan dan memberikan kepuasan kepada penerima. Penggunaan anggaran subsidi negara harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung masyarakat. Pemerintah selama setahun terakhir menunjukkan upaya memperkuat ekosistem perumahan melalui peningkatan kolaborasi dengan pengembang, dukungan pembiayaan rumah subsidi, serta dorongan untuk menyelesaikan berbagai hambatan administratif dan regulasi. Perkembangan tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah untuk mempercepat pencapaian target pembangunan hunian sekaligus memperbaiki kualitas pelaksanaan program di lapangan. Maruarar Sirait juga mendorong Himperra agar tidak hanya berkembang sebagai organisasi pengembang, tetapi mampu melahirkan pelaku usaha yang memiliki karakter kuat dan menjunjung profesionalisme. Pertumbuhan bisnis perumahan, menurutnya, harus tetap berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial karena produk yang dibangun menyangkut kebutuhan dasar masyarakat. Di sisi lain, Himperra menyampaikan sejumlah usulan yang berkaitan dengan hambatan pembangunan perumahan, termasuk persoalan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK, penyediaan lahan, dan proses perizinan. Persoalan tersebut menjadi perhatian karena kelancaran pembangunan rumah sangat dipengaruhi oleh kepastian proses administratif serta kesiapan lahan yang dapat digunakan untuk pembangunan. Penguatan koordinasi juga akan dilakukan melalui jajaran Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himperra dengan pemerintah daerah. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membantu mempercepat Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), penerapan kebijakan insentif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta fasilitasi pembebasan BPHTB bagi masyarakat sesuai kebijakan daerah dan ketentuan yang berlaku. Saat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pengembang berjalan konsisten, berbagai hambatan administratif dapat dikurangi. Dampaknya bukan hanya mempercepat pembangunan rumah, tetapi juga memperluas peluang masyarakat berpenghasilan rendah untuk memperoleh hunian yang layak. Pemerintah juga perlu menjaga pengawasan agar berbagai kemudahan yang diberikan kepada pengembang tetap menghasilkan pembangunan yang berkualitas. Ketua Umum DPP Himperra, H. Ari Tri Priyono, memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Maruarar Sirait dalam mendorong kemajuan sektor perumahan. Ari Tri Priyono menilai perkembangan sektor perumahan dalam dua tahun terakhir menunjukkan kemajuan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penilaian dari pelaku industri tersebut menjadi gambaran bahwa kebijakan pemerintah mulai memberikan ruang lebih besar bagi sektor perumahan untuk berkembang. Himperra juga terus memperkuat organisasi melalui kegiatan Rapat Kerja Nasional, pelatihan, dan Milad Himperra yang menjadi ruang konsolidasi antara pengembang dan pemerintah. Forum semacam itu penting untuk menyamakan persepsi, menyerap persoalan di lapangan, sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan secara efektif. Program 3 Juta Rumah harus dipandang sebagai agenda besar